Biduran Saat Hamil: 4 Penyebab dan Cara Aman Mengatasinya

Biduran Saat Hamil: 4 Penyebab dan Cara Aman Mengatasinya
Biduran Saat Hamil: 4 Penyebab dan Cara Aman Mengatasinya

1. Perubahan Hormonal dan Imunitas

Penyebab paling mendasar dari munculnya biduran saat hamil adalah fluktuasi hormon yang sangat drastis, terutama lonjakan estrogen dan progesteron. Perubahan kimiawi ini tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga mengubah cara sistem kekebalan tubuh merespons rangsangan dari luar. Selama hamil, sistem imun cenderung menjadi lebih sensitif atau "waspada," sehingga tubuh lebih mudah melepaskan zat histamin ke dalam aliran darah sebagai bentuk pertahanan. Pelepasan histamin inilah yang menyebabkan pembuluh darah kecil melebar dan cairan merembes ke jaringan kulit, yang kemudian bermanifestasi sebagai bentol-bentol gatal atau biduran.

2. Peregangan Kulit yang Ekstrem (PUPPP)

Pada trimester ketiga, rahim akan membesar dengan cepat untuk mengakomodasi pertumbuhan janin, yang menyebabkan kulit perut meregang hingga batas maksimalnya. Kondisi ini sering memicu kemunculan Pruritic Urticarial Papules and Plaques of Pregnancy (PUPPP). Peregangan jaringan ikat di bawah kulit dapat menyebabkan peradangan lokal yang menyebar dari area stretch marks di perut menuju paha, bokong, hingga lengan. PUPPP adalah jenis biduran spesifik kehamilan yang paling sering dialami oleh ibu yang baru pertama kali hamil atau mereka yang mengandung bayi kembar, karena beban peregangan kulit yang jauh lebih besar.

3. Reaksi Alergi yang Baru Muncul

Ibu Hamil Alergi, Apa Pengaruhnya pada Janin? | kumparan.com

Kehamilan terkadang mengubah profil alergi seseorang secara tidak terduga. Ibu hamil mungkin tiba-tiba mengalami reaksi alergi terhadap bahan-bahan yang sebelumnya dianggap aman, seperti jenis makanan tertentu (seafood, kacang-kacangan), serbuk sari, bulu hewan, hingga bahan kimia dalam deterjen atau sabun mandi. Karena kulit ibu hamil cenderung lebih tipis dan kering akibat perubahan sirkulasi darah, fungsi pelindung kulit (skin barrier) menjadi lebih lemah. Hal ini memudahkan zat alergen menembus pori-pori dan memicu reaksi peradangan kulit yang meluas dalam waktu singkat.

4. Stres Fisik dan Kelelahan Berlebih

Kondisi psikologis dan fisik ibu hamil sangat berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Stres yang meningkat menjelang persalinan atau kelelahan fisik akibat beban tubuh yang bertambah dapat memicu sistem saraf untuk melepaskan neuropeptida yang memperburuk gejala biduran. Selain itu, suhu tubuh ibu hamil yang cenderung lebih tinggi (hipertermia ringan) membuat kulit lebih mudah berkeringat dan lembap. Kombinasi antara stres, keringat, dan gesekan pakaian dapat memicu kemunculan biduran yang terasa semakin panas dan gatal, terutama di area lipatan kulit atau bagian tubuh yang tertutup pakaian ketat.

Cara Mengatasi Biduran dengan Aman

Untuk meredakan gejala di rumah, langkah pertama yang paling efektif adalah menggunakan kompres dingin. Suhu rendah dapat membantu mengecilkan pembuluh darah yang melebar dan meredam sensasi gatal secara instan. Selain itu, pilihlah pakaian yang longgar dengan bahan katun murni agar kulit bisa bernapas dengan baik dan tidak teriritasi oleh gesekan kain. Penggunaan losion calamine atau mandi dengan air suam-suam kuku yang dicampur dengan oatmeal koloid juga sangat disarankan untuk menenangkan kulit yang meradang.

Jika cara alami tidak memberikan hasil, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun. Dokter biasanya akan meresepkan antihistamin dosis rendah atau salep kortikosteroid yang sudah teruji keamanannya bagi ibu hamil. Hindari menggaruk area yang gatal karena dapat menyebabkan luka lecet yang memicu infeksi sekunder bakteri. Pastikan asupan air putih tetap terjaga agar kelembapan kulit dari dalam tetap stabil, yang secara tidak langsung membantu mengurangi reaktivitas kulit terhadap pemicu biduran.

KehamilanKesehatanGlobumil
Dipublikasikan:
Kategori: Kehamilan
Penulis:
Globumil

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Berikan Komentar