Secara umum, plasenta normal memiliki beberapa ciri fisik dan fungsional yang khas. Dari segi bentuk dan ukuran, plasenta yang sehat biasanya berbentuk cakram atau bulat pipih dengan diameter sekitar 15-25 cm dan ketebalan sekitar 2-4 cm di bagian tengah, serta berat sekitar 500-600 gram pada akhir kehamilan. Ukuran ini dapat bervariasi sedikit tergantung pada ukuran bayi dan usia kehamilan, tetapi biasanya sekitar seperenam dari berat bayi. Warnanya merah kebiruan atau merah gelap karena kaya akan pembuluh darah. Plasenta memiliki dua sisi: sisi ibu (maternal) yang melekat pada dinding rahim dan sisi janin (fetal) yang mulus dan berkilau, tempat tali pusat menempel.
Dari segi lokasi penempelan, plasenta normal biasanya menempel di bagian atas atau samping rahim, jauh dari jalan lahir (serviks). Posisi ini memungkinkan plasenta berfungsi secara optimal tanpa menghalangi jalan lahir saat persalinan. Jika plasenta menempel terlalu dekat atau menutupi sebagian maupun seluruh pembukaan serviks, kondisi ini disebut plasenta previa, yang merupakan kelainan dan memerlukan pengawasan ketat, bahkan mungkin persalinan melalui operasi caesar.
Ciri lain yang penting adalah tali pusat yang sehat dan menempel dengan benar. Tali pusat normal biasanya memiliki dua arteri dan satu vena (disebut Tiga Pembuluh Darah Tali Pusat - TVT), yang memanjang dari pusat plasenta ke pusar janin. Vena membawa darah kaya oksigen dan nutrisi dari plasenta ke janin, sementara arteri membawa darah miskin oksigen dan produk limbah dari janin kembali ke plasenta. Panjang tali pusat normal bervariasi, sekitar 50-60 cm pada kehamilan cukup bulan, memungkinkan gerakan bebas bagi janin tanpa risiko kompresi.
Secara fungsional, plasenta yang normal menunjukkan aliran darah yang lancar dan memadai antara ibu dan janin. Hal ini dapat dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi Doppler, yang mengukur resistensi dan kecepatan aliran darah dalam pembuluh darah plasenta dan tali pusat. Aliran darah yang optimal memastikan bahwa janin menerima oksigen dan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya dan dapat membuang limbah secara efektif. Selain itu, plasenta yang sehat mampu memproduksi hormon kehamilan dalam jumlah yang sesuai, seperti human chorionic gonadotropin (hCG) yang menjaga korpus luteum tetap aktif di awal kehamilan, progesteron untuk menjaga kehamilan, dan estrogen yang mendukung perkembangan rahim serta kelenjar susu.
Penting untuk diingat bahwa setiap kondisi abnormal pada plasenta, seperti plasenta previa, solusio plasenta (plasenta lepas sebagian atau seluruhnya sebelum waktunya), plasenta akreta (plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim), atau infark plasenta (kematian jaringan plasenta), dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu dan janin.
Oleh karena itu, melalui pemeriksaan ultrasonografi rutin dan pemantauan oleh dokter kandungan, ciri-ciri plasenta normal ini akan terus dievaluasi sepanjang kehamilan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan ibu serta perkembangan janin yang optimal hingga saatnya persalinan. Jika ada kekhawatiran atau gejala yang tidak biasa, seperti pendarahan vagina atau nyeri perut yang hebat, segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Komentar (0)